Rabu, 28 Desember 2011

How to capturing picture?

Name  : Rahmad Fudi Istanto
NIM   : A320090213
Class : F

How to capturing Picture?

Pengambilan gambar terhadap suatu objek dapat dilakukan dengan lima cara:

    * Bird Eye View
      Teknik pengambilan gambar yang dilakukan dengan ketinggian kamera berada di atas ketinggian objek. Hasilnya akan terlihat lingkungan yang luas dan benda-benda lain tampak kecil dan berserakan.

    * High Angle
      Sudut pengambilan dari atas objek sehingga mengesankan objek jadi terlihat kecil. Teknik ini memiliki kesan dramatis yaitu nilai “kerdil”.

    * Low Angle
      Sudut pengambilan dari arah bawah objek sehingga mengesankan objek jadi terlihat besar. Teknik ini memiliki kesan dramatis yaitu nilai agung/ prominance, berwibawa, kuat, dominan.

    * Eye Level
      Sudut pengambilan gambar sejajar dengan objek. Hasilnya memperlihatkan tangkapan pandangan mata seseorang. Teknik ini tidak memiliki kesan dramatis melainkan kesan wajar.

    * Frog Eye
      Sudut pengambilan gambar dengan ketinggian kamera sejajar dengan alas/dasar kedudukan objek atau lebih rendah. Hasilnya akan tampak seolah-olah mata penonton mewakili mata katak.

Teknik pengambilan gambar tanpa menggerakkan kamera, jadi cukup objek yang bergerak.

    * Objek bergerak sejajar dengan kamera.
    * Walk In : Objek bergerak mendekati kamera.
    * Walk Away : Objek bergerak menjauhi kamera.

Teknik ini dikatakan lain karena tidak hanya mengandalkan sudut pengambilan, ukuran gambar, gerakan kamera dan objek tetapi juga unsur- unsur lain seperti cahaya, properti dan lingkungan. Rata-rata pengambilan gambar dengan menggunakan teknik-teknik ini menghasilkan kesan lebih dramatik.

    * Backlight Shot: teknik pengambilan gambar terhadap objek dengan pencahayaan dari belakang.
    * Reflection Shot: teknik pengambilan yang tidak diarahkan langsung ke objeknya tetapi dari cermin/air yang dapat memantulkan bayangan objek.
    * Door Frame Shot: gambar diambil dari luar pintu sedangkan adegan ada di dalam ruangan.
    * Artificial Framing Shot: benda misalnya daun atau ranting diletakkan di depan kamera sehingga seolah-olah objek diambil dari balik ranting tersebut.
    * Jaws Shot: kamera menyorot objek yang seolah-olah kaget melihat kamera.
    * Framing with Background: objek tetap fokus di depan namun latar belakang dimunculkan sehingga ada kesan indah.
    * The Secret of Foreground Framing Shot: pengambilan objek yang berada di depan sampai latar belakang sehingga menjadi perpaduan adegan.
    * Tripod Transition: posisi kamera berada diatas tripod dan beralih dari objek satu ke objek lain secara cepat.
    * Artificial Hairlight: rambut objek diberi efek cahaya buatan sehingga bersinar dan lebih dramatik.
    * Fast Road Effect: teknik yang diambil dari dalam mobil yang sedang melaju kencang.
    * Walking Shot: teknik ini mengambil gambar pada objek yang sedang berjalan. Biasanya digunakan untuk menunjukkan orang yang sedang berjalan terburu-buru atau dikejar sesuatu.
    * Over Shoulder : pengambilan gambar dari belakang objek, biasanya objek tersebut hanya terlihat kepala atau bahunya saja. Pengambilan ini untuk memperlihatkan bahwa objek sedang melihat sesuatu atau bisa juga objek sedang bercakap-cakap.
    * Profil Shot : jika dua orang sedang berdialog, tetapi pengambilan gambarnya dari samping, kamera satu memperlihatkan orang pertama dan kamera dua memperlihatkan orang kedua.


Selain teknik2 diatas, masih ada beberapa tehknik dalam pengambilan gambar:
1. EWS (Extreme Wide Shot):Gambar diambil dari jarak yang sangat jauh bahkan subjek dari karakter tokoh tidak kelihatan sama sekali, hanya suasana dalam sebuah lingkungan (environment) yang diambil secara luas. Biasa digunakan pada bagian awal pembuka film untuk membangun suasana.
2. VWS (Very Wide Shot):Subjek mulai kelihatan tapi tetap dengan menempatkan pada lingkungan sekitarnya. Bisa dikatakan bahwa jarak subjek pada VWS lebih dekat ketimbang EWS yang subjeknya bahkan bisa saja tidak keliatan sama-sekali. Subjek pada VWS pada intinya adalah penempatan ruang dan lingkungan yang masih menyertainya.
3. WS (Wide Shot):Pengambilan subyek memenuhi isi frame, lengkap dari kepala hingga kaki dengan komposisi gambar seartistik mungkin.
4. MS (Mid Shot):Subjek ditempatkan setengah frame dengan spesifikasi detil tertentu untuk mendapatkan impresinya pada gambar. MS lebih menitikberatkan pada gesture tokoh tanpa menitikberatkan intensitasnya. Ditujukan untuk mendapatkan detil konsentrasi emosional dan ekspresi tertentu dalam pemberian kekuatan karakter tokoh yang diambil gambarnya.
5.MCU (Medium Close Up):Subjek diambil gambarnya agak mendekat tapi bukan kelewat dekat (close up), menggambarkan kondisi wajahnya lebih jelas ketimbang MS namun masih dengan beberapa perangkat pun kesibukan lainnya. Teknik yang menekankan subjek yang menggambarkan fakta bahwa tokoh atau karakter tertentu dalam film dengan ekspresinya.
6. CU (Close Up):CU adalah penggambaran karakter tokoh dengan menempatkan wajahnya 1 frame penuh dengan segala ekspresinya.
7. ECU (Extreme Close Up): ECU lebih ditekankan pada pengambilan detil ekspresi dan karakter tokoh yang diperankan. Menunjukkan dengan sangat detil ekspresi yang diambil dari bagian-bagian tertentu tubuh seperti mata, hidung atau bibir.
8. Cut-In:Teknik pengambilan gambar pada subjek untuk detil tertentu dan tanpa muka. Dalam contoh gambar ini bagaimana seorang subjek tengah memegang kamera dan detil memegang kamera itulah yang ditekankan.
9. Cutaway:Teknik pengambilan gambar di mana subjek berada pada lingkungannya dengan subjek-subjek lainnya. Di tengah kerumunan, pun di antara banyak orang. Dalam pekerjaan editing, CA lebih digunakan sebagai penyerantara (in-between) dengan gambar berikutnya untuk memberikan impresi tertentu pada penekanan informasi karakter yang diperankan.
10.Two Shot:Pengambilan gambar dengan 2 subjek. Memang agak mirip dengan MS, hanya saja ini 2 subjek. Dasar teorinya, "One-Shot" bisa berarti "Mid-Shot", pun "Three-Shot" juga berarti mengambil gambar dengan 3 subjek.
11. OSS (Over-the-Shoulder Shot):Adanya subjek gambar yang membelakangi subjek lain, biasanya diambil dengan ukuran sepertiga subjek dari frame. Teknik ini adalah pengambilan gambar dengan memasukkan bagian belakang subjek lain untuk membelakangi subjek karakter tokoh dalam frame.
12. Noddy Shot:Biasanya mengacu pada posisi subjek yang sedang menyimak, mendengarkan, atau memperhatikan subjek lain. Teknik pengambilan gambar yang paling sering dipakai program berita televisi ketika mewawancarai narasumber.
13. POV (Point-of-View):Teknik pengambilan gambar dengan menekankan sudut perspektif dari subjek, atau elemen tertentu lainnya. Paling sering dipakai pada subjek yang tengah memberikan impresi tertentu pada karakternya yang diwakilkan dengan tangan.

Minggu, 18 Desember 2011

Filosofi Wanita

Filosofi tentang wanita

Bagaimana pandangan kita terhadap wanita?

Dari awal penciptaanya, wanita diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam, mengapa demikian :
- karena rusuk dekat dengan jantung artinya : jantung sumber kehidupan, tanpa wanita tidak ada kehidupan di dunia ini, karena wanita memberi penerus bagi kehidupan suatu keluarga.
- karena rusuk dekat dengan hati artinya : perlakukan wanita dengan penuh perhatian karena wanita ingin dimengerti
- dekat dengan lengan artinya : wanita harus dilindungi harkat dan martabatnya dari eksploitasi wanita.
- dekat dengan paru paru artinya : seperti paru paru yang mengisap udara yang kita butuhkan, tidak ada pria normal yang dapat hidup tanpa wanita, dan Tuhan memang menciptakan manusia dalam berpasang pasangan

Mengapa tidak dari tulang yang lain, misalnya:
- tulang kaki : karena wanita bukan untuk diinjak injak harkat dan martabatnya
- tulang belakang : karena sudah sewajibnya kaum pria menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah
- tulang tangan : karena wanita bukan milik (possesion) dari pria, wanita adalah mitra pria dalam menjalani kehidupan
- tulang tengkorak : karena sewajarnya pria yang menjadi kepala rumah tangga, bukan wanita
- tulang panggul : karena wanita bukan obyek pemuas nafsu (liat saja di panggul itu ada apa )

Selasa, 13 Desember 2011

THE FALL OF THE IMAM

FEMINIS RADIKAL DALAM NOVEL
“JATUHNYA SANG IMAM” KARYA NAWAL EL-SADAWI
(Sebuah Tinjuan Sastra Feminis)
PENDAHULUAN
Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang menyajikan cerita fiksi dalam bentuk tulisan atau kata-kata, yang mempunyai unsur intrinsik dan ekstrensik. Sebuah novel biasanya menceritakan tentang kehidupan manusia bermacam-macam masalah dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesamanya. Seorang pengarang berusaha semaksimal mungkin mengarahkan pembaca kepada gambaran-gambaran realita kehidupan lewat cerita yang ada dalam novel tersebut. Seperti halnya cerita dalam novel Jatuhnya Sang Imam Karya Nawal el-Sadawi ini ceritanya sangat menarik.
Nawal el-Saadawi membuat cerita dalam novel Jatuhnya Sang Imam terlihat hidup. Peristiwa- peristiwa itu dalam kenyataan memang benar terjadi. Nawal el- Saadawi adalah seorang pengarang yang peka terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh individu dan masyarakat. Novel Jatuhnya Sang Imam yang terbit pada tahun 2004 merupakan novel dari Nawal el-Saadawi yang mempunyai kelebihan dalam menceritakan kehidupan tokoh-tokoh perempuan. Novel tersebut menceritakan gambaran kenyataan yang ada dalam kehidupan masyarakat. Perspektif jender dan ketidakadilan jender menjadi masalah menarik yang diungkapkan pengarang melalui tokoh-tokoh dan menjadi peristiwa yang diceritakan.
Nawal menulis novel Jatuhnya Sang Imam di dalam bui ketika ia dengan beberapa pemikir yang anti-Sadat dipenjara. Novel ini menceritakan seorang imam (pemimpin) di suatu daerah yang mengklaim sebagai wakil Allah di bumi. Dia menindas dan memperdaya rakyatnya atas nama Tuhan. Ternyata imam yang dipuja-puja rakyatnya itu memiliki anak di luar nikah. Dan borok imam tercium ketika sang anak dikejar-kejar polisi karena dituduh sebagai pembunuh. Sang imam mati sangat tragis karena ditembak anaknya sendiri saat perayaan kemerdekaan negaranya.
Tokoh imam itu terilhami oleh sosok Sadat. Sedangkan sifat kemunafikan imam yang sering menampakkan diri di depan rakyat sebagai pemimpin yang taat beragama tapi di belakang rakyat suka mabuk adalah sosok Numairi (mantan Presiden Sudan). Nawal pernah mengatakan dalam suatu wawancara:
“Saya pernah ke istana Numairi. Di sana ada kamar khusus salat dan kamar khusus minuman keras. Padahal, Numairi memerintahkan rakyatnya untuk membuang setiap minuman keras ke Sungai Nil. Munafik, bukan? Dan, pemimpin-pemimpin sekarang banyak yang seperti itu.”
Nawal sering terkesan menyerang Islam dan sistem politik negaranya, Mesir. Namun, dalam pembicaraannya di berbagai forum internasional dan sebagai pembicara kunci di hampir seluruh universitas di Amerika serta institusi akademik lainnya, ia tidak kehilangan daya kritisnya terhadap AS terutama prasangka buruknya terhadap dunia Islam.
Tentang feminisme, ia mengatakan bahwa di Mesir sedikit sekali, untuk tidak mengatakan tidak ada feminis. Menurutnya, feminisme adalah perjuangan melawan patriarkat dan kelas. Sekaligus perlawanan terhadap dominasi laki-laki dan dominasi kelas. Dan menurutnya opresi yang dilakukan keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Karena hal itu saling berkaitan.
Ia juga mengkritik kaum feminis, yang menurutnya sebagian besar memiliki ‘kesadaran palsu’ terhadap perjuangan yang mereka lakukan. Menurutnya, kalangan feminis sering tidak menyadari bahwa mereka menjadi korban fundamentalisme keagamaan dan konsumerisme Amerika. Ketidaksadaran mereka tentang hubungan antara kebebasan perempuan di satu sisi dan ekonomi serta negara di sisi lain, sering membuat perempuan hanya terfokus pada perjuangan melawan patriarkat semata dan mengabaikan bahaya corporate capitalism bagi kehidupan perempuan Perumusan Masalah dan Landasan Teori
Masalah perspektif jender yang terkandung dalam novel Jatuhnya Sang Imam, salah satunya ditunjukkan melalui tokoh Bintullah sebagai sosok perempuan yang telah didorong oleh rasa putus asa ke pojok yang paling kelam. Masalah ketidakadilan antara lain diungkapkan dalam bentuk tindak kekerasan terhadap perempuan yang dimainkan oleh Bintullah. Peneliti menganggap novel Jatuhnya Sang Imam mengenai perspektif jender penting untuk dianalisis dengan alasan sebagai berikut:
Pembahasan masalah perspektif jender yang terkandung dalam novel Jatuhnya Sang Imam penting dilakukan untuk mengetahui relevansinya dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat. Masalah perspektif jender dalam karya sastra pada umumnya dan khususnya dalam novel Jatuhnya Sang Imam pada khususnya merupakan fenomena menarik dalam memberikan deskripsi dan kontribusi dalam wacana feminisme, jender dan sasrta. Oleh karena itu penulis menganalisis novel Jatuhnya Sang Imam dengan teori sastra feminis. Kritik sastra feminis ini dapat diartikan sebagai alat untuk menyatukan pendirian bahwa seorang perempuan dapat membaca sebagai perempuan, mengarang sebagai perempuan, dan menafsirkan karya sastra sebagai perempuan. Kritik sastra feminis bertujuan untuk menunjukkan citra wanita dalam karya penulis-penulis pria yang menampilkan wanita sebagai makhluk dengan berbagai cara ditekan, disalah tafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarkal yang dominan.
Agar pembahasan dalam penelitian ini menjadi jelas dan terarah perlu adanya perumusan masalah. Perumusan masalah dalam penelitian ini dalahsebagai berikut:
1. Bagaimana struktur yang membangun novel Jatuhnya Sang Imam karya Nawal el-Saadawi?
2. Bagaimana wujud perspektif jender dan maknanya yang terkandung dalam novel Jatuhnya Sang Imam karya Nawal el Saadawi?
PEMBAHASAN
Pembahasan Gender Yang Membangun Struktur Dalam Novel
Dalam konteks sastra, feminisme berkembang menjadi tiga golongan. Golongan pertama disebut golongan yang paling lunak karena hanya sekedar memperjuangkan agar status wanita, termasuk sastrawan wanita dan karya sastra wanita menjadi lebih baik. Golongan kedua berusaha untuk merombak kanon sastra karena mereka menganggap bahwa standard kanon tidak lain adalah standard hasil kerangka pemikiran laki-laki. Golongan ketiga disebut golongan pemarah. Mereka menganggap laki-laki sebagai musuh dan mereka mengekspresikan kemarahan mereka kepada laki-laki, pengarang laki-laki, dan tokoh-tokoh laki-laki dalam sastra ke dalam karya sastra [Darma, 1999: 3]. Nawal el-Sadawi dapat dimasukkan dalam golongan ke tiga karena dia menggunakan karya-karyanya untuk mengekspresikan kemarahannya kepada laki-laki, baik individu maupun tradisi yang berorientasi pada kepentingan laki-laki.
Tulisan atau kritikan pedas Nawal el-Sadawi, tokoh feminis Mesir ini, bukanlah tanpa tujuan atau maksud. Pena digunakannya sebagai senjata untuk menunjukkan ketidakadilan yang dialami wanita sehingga ada tindakan untuk mengubahnya. Tokoh-tokoh dalam novelnya Jatuhnya Sang Imam digunakannya sebagai corong ide untuk menyuarakan hati nurani wanita. Dengan kata lain, untuk menggugat ketimpangan dalam bidang sosial, cinta, rumah tangga, kesenian, bahkan juga pendidikan.
Jatuhnya Sang Imam adalah salah satu karya Nawal el-Sadawi yang sarat dengan ketidakadilan tehadap wanita dan kemarahan terhadap laki-laki. Yang menarik, meskipun setting keseluruhan berada di dua negara, yaitu di Mesir dan Palestina, tokoh-tokohnya, kecuali tokoh utama wanita dan putrinya, adalah orang arab, persoalan dan konflik yang yang terjadi kerap juga terjadi di Mesir sehingga banyak pelajaran dapat dipetik dan banyak inspirasi dapat diperoleh oleh pembaca Mesir termasuk juga pembaca Indonesia.
Dalam karya apiknya ini Nawal el-Sadawi memperluas wawasan pembacanya dengan menceritakan perjuangan beberapa wanita dalam menghadapi konflik dan membungkusnya dengan kata-kata cantik sehingga tidak terkesan menggurui. Diantaranya, perjuangan tokoh utama wanita, Bintullah, dalam kesendiriannya menghadapi godaan laki-laki iseng yang telah beristri dan perjuangannya menghadapi konflik batin berkaitan dengan ketidakjelasan asal usulnya, sebagai anak haram. Selain itu, pembaca dihantar juga untuk memahami penderitaan wanita yang bernama kate ketika harus melayani nafsu suaminya dan para penghuni istana.
Novel ini menceritakan seorang imam (pemimpin) di suatu daerah yang mengklaim sebagai wakil Allah di bumi. Dia menindas dan memperdaya rakyatnya atas nama Tuhan. Ternyata imam yang dipuja-puja rakyatnya itu memiliki anak di luar nikah. Dan borok imam tercium ketika sang anak dikejar-kejar polisi karena dituduh sebagai pembunuh. Sang imam mati sangat tragis karena ditembak anaknya sendiri saat perayaan kemerdekaan negaranya.
Sang Imam yang mempunyai legitimasi penuh dalam permasalahan agama, selalu memakai Tuhan sebagai landasan dan pijakannya dalam menentukan masalah dan kepentingan, termasuk juga kepentingan pribadinya. Ia banyak menafsirkan agama sekehendaknya sendiri. Menurut dia seorang Imam adalah utusan Tuhan sama dengan seorang nabi yang diutus oleh Tuhan. Apa yang menjadi keputusannya adalah keputusan Tuhan dan segala hal yang dilarangnya adalah larangan Tuhan juga.
Dalam novel Jatuhnya Sang Imam, sebenarnya sang imam mempunyai kehidupan yang buruk termasuk beberapa kalangan istana namun masyarakat tidak mengetahuianya. Dalam pandangan masyarakat sang Imam adalah panutan yang harus selalu ditaati segala bentuk perintahnya tanpa ada prasangka untuk memprotes maupun meneliti kembali. Karena menurut nereka sang Imam adalah manifestasi dari Tuhan yang menampakkan diri ke dunia demi hambanya. Menurut pandangan masyarakat segala ilmu Tuhan telah diberikan kepada sang Imam untuk menyelamatkan umatnya dari siksa neraka. Hanya sang Imam yang mengetahui segala peristiwa yang bakal terjadi di muka bumi ini karena hanya dia yang iberi ilham oleh Tuhan.
Dalam kehidupannya perilaku sang Imam tidak sesuai dengan petuah yang ia sampaikan kepada masyarakatnya. Ia menyuruh umatnya untuk membuang arak dan segala jenis minuman keras ke sungai namun di istana ia tiap malam berpesta minuman dan mabuk-mabukkan bersama para pejabat istana. Hamper tiap malam sang Imam selalu bergaul dengan wanita yang berlainan. Bahkan istrinya sendiri pun tidak hanya bergaul dengan sang imam seorang namun hamper semua pejabat istana pernah menggauli permaisuri sang imam. Bahkan sebelum menjadi sang imam ia pernah memerkosa seorang gadis secara beramai-ramai bersama teman-temannya hingga sang gadis tersebut hamil.
Bagi sang imam wanita adalah pelayan bagi kaum laki-laki. Segala apa yang diinginkan lelaki harus dipatuhi dan dilaksanakan. Kesalahan wanita adalah kesalahan setan sedangkan kesalahan laki-laki berasal dari Tuhan. Wanita hanyalah pemuas bagi nafsu lelaki jika sudah bosan sah untuk dibuang atau diberikan kepada orang lain. Wanita tidak boleh selingkuh ataupun berkhianat kepada lelaki karena itu dilaknat oleh Tuhan akan tetapi laki-laki boleh berkhianat ataupun selingkuh karena laki-laki bvoleh punya wanita lebih dari satu.
Kebusukan dan keburukan sang imam mulai terlihat ketika ada seorang gadis yang sudah tidak punya ayah dan ibu mencoba mencari tahu keberadaan ayahnya. Menurut cerita ibunya dan orang yang pernah mengasuhnya ketika ia masih dipanti asuhan bahwa sifat-sifat yang dimiliki ayahnya sama seperti sifat-sifat yang ada pada sang imam. Gadis tersebut bernama Bintullah.
Karena merasa tidak mempunyai ayah, maka Bintullah menganggap dirinya sebagai putri Tuhan sebagaimana Isa al-Masih putra Tuhan dari Ibu Maryam. Sejak kecil Bintullah adalah sosok wanita yang kritis terhadap realitas kehidupan yang ia alami. Ia memprotes mengapa laki-laki boleh beristri lebih dari satu sedangkan wanita tidak boleh. Ia juga tidak setuju sikap seorang istri ketika suaminya selingkuh sang istri hanya diam saja menerima apa adanya. Menurut Bintullah seorang wanita terhormat jika ia bisa mengoptimalkan otaknya dan pikirannya dalam artian bahwa sebagai wanita mereka harus berani mengkritisi segala kebijakan dan permasalahan yang dirumuskan oleh kaum patriarki namun berdapak buruk terhadap wanita keputusan tersebut, meskipun keutusan tersebut berlandaskan teks keagamaan.
Sikapnya yang kritis terhadap realitas kehidupan yang ada serta keinginannya untuk mengetahui siapa ayahnya sebenarnya menghantarkannya bertemu dengan sang Imam. Dari sikapnya ini sang imam tahu bahwa Bintullah adalah putrinya. Namun bintullah tidak mau mengakui danmenerima sang imam sebagai ayahnya, karena ia tidak mau memiliki seorang ayah yang kejam yang bertindak sewenang-wenang terhadap wanita menganggap wanita sebagai budak dan barang yang bisa diperjualbelikan. Namun akhirnya Bintullah membunuh sang imam karena merasa kesal dengan sikapnya yang semena-mena memutarbalikkan ajara agama. Dan Bintullah akhirnya dikenai hukuman mati karena telah membunuh sang imam
Perspektif Gender Terkandung Dalam Novel Jatuhnya Sang Imam
Melalui tokoh Bintullah ini, Nawal el-Sadawi mentransferkan dan mencurahkan segala kekesalannya terhadap ketidak setaraan gender akibat dominasi sisitem patriarki. Bahkan dominasi system patriarki ini dilegitimasi berdasarkan agama. Dalam sistem patriarki, suami mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada istri karena suami dianggap sebagai kepala rumah tangga. Suami mempunyai hak untuk memerintah anggota keluarganya. Selain itu, suami yang berkuasa juga atas semua harta milik, menjadi pencari nafkah dan sebagai pembuat semua keputusan penting. Di lain pihak, istri dituntut untuk dapat menyenangkan suami, tanpa mempedulikan kesenangan dan hak-hak pribadinya
Dalam novel Jatuhnya Sang Imam, Bintullah adalah merupakan anak kandung dari sang Imam sendiri. Dari semenjak kecil Bitullah diasuh oleh panti asuhan, ibunya mati karena dihukum ranjam dengan tuduhan melakukan perzinahan. Hukuman itu diputuskan oleh sang imam sendiri padahal sang imam lah yang telah menjadikannya hamil.
Dalam novel tersebut dikatakan bahwa harga seekor kerbau lebih mahal dari pada harga seorang perempuan. Seorang laki-laki bisa memiliki empat orang perempuan namun hanya punya seekor kerbau. Seorang wanita berjalan di parit mencari makan sementara seekor kerbau bersenang-senang. Nuansa patriarki juga tampak dalam pernyataan sang Imam bahwa patuh kepada Tuhan adalah sebuah kewajiban dan patuh kepada ayah atau suami sama dengan patuh kepada Tuhan.
Bahkan pengkhianatan seorang laki-laki itu diperbolehkan berdasarkan perintah Tuhan, tetapi kalau pengkhianatan seorang perempuan itu dilarang oleh Tuhan karena pengkianatan perempuan berasal dari setan dan pada dasarnya perempauan adalah penipu seperti ibu mereka Hawa. Bahkan masyarakat akan memberi penilaian negatif kepada istri yang tidak melayani suaminya. Bahkan, bila suami berlaku kasar kepadanya, istri tetap wajib menghormati suaminya. Sikap demikian wajib ditunjukkan karena suami memang dianggap lebih tua daripada istrinya. Dengan demikian, istri yang tidak menghormati dan mematuhi suaminya akan mendapat kesan yang jelek dari kalangan masyarakat. Selain alasan tersebut di atas, alasan lainnya adalah untuk menghindari perceraian.
KESIMPULAN
Jika disimak dengan benar, dapat disimpulkan bahwa apa yang hendak diangkat Nawal el-Sadawi pengarang wanita Mesir ini dalam novel Jatuhnya Sang Imam adalah wanita dan pria seharusnya dapat menjadi mitra yang baik. Penghalang yang menghadang adalah adanya tradisi patriarki yang mendudukkan pria di posisi lebih tinggi dari wanita sehingga wanita bukan menjadi mitra melainkan obyek dari pria. Pesan yang ingin disampaikan dikemas pengarang feminis Mesir ini dengan apiknya lewat kemarahan dam kekritisan tokoh utama wanita yang merupakan anak haram dari Sang Imam sendiri. Penggunaan pemain utama yang sama-sama berlatar belakang masyarakat yang mengagungkan patriarki sengaja dilakukan untuk menajamkan pesan. Sekali lagi, apa yang diperjuangkan bukannya agar wanita dianggap lebih hebat dari laki-laki tetapi agar wanita diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki atau diperlakukan yang sama dengan laki-laki karena sebetulnya wanita mempunyai potensi yang sama dengan laki-laki.
Kemarahan yang ditonjolkan bukan diarahkan kepada orang laki-laki tetapi kepada perbuatan laki-laki yang menindas wanita. Nawal el-Sadawi ingin meyadarkan wanita bahwa kemarahan akibat ditindas bukan merupakan sesuatu yang negatif, sesuatu yang harus dihindari tetapi hendaknya menyadarkan wanita untuk bangkit dan menolong diri sendiri agar bebas dari penindasan.
Juga dapat disimpulkan bahwa Nawal el-Sadawi ingin menyadarkan pembaca atau masyarakat bahwa agama tidak bisa dijadikan legitimasi seoarang pria akan kedudukanya dihadapan wanita karena hal ini hanyalah menimbulkan penderitaan bagi wanita. Sudah waktunya bagi para pemimpin dan pemuka agama untuk berbesar hati mau meninjau kembali dan meneliti secara seksama posisi yang sebenarnya antara pria dan wanita dalam pandangan agama. Nawal el-Sadawi juga menekankan bahwa menjadikan istri sebagai obyek tidak menguntungkan suami tetapi malah merugikan karena istri tidak dapat mengoptimalkan potensi yang ada pada dirinya semaksimal mungkin. Intinya, pengarang Meisr ini ingin membuka mata pembaca atau masyarakat bahwa lebih menguntungkan dan membahagiakan jika wanita dan pria menjadi patner daripada menjadi pesaing

Minggu, 11 Desember 2011

Philosophy, Anthropology, and Linguistics in Translation

Philosophy, Anthropology, and Linguistics in Translation

by Carmen Guarddon Anelo, Ph.D.
 
1. Relativism and Universal Rationalism
When a translator is faced with a text, he should take into account that the product of his translation is directed at people that come from a background which is different from that of the original target audience. When we talk of a different background, we refer to people with a different history, participating in different social practices and speaking a different language.
It seems man cannot invent anything that he cannot conceive.
In philosophy, we face two perspectives from which to consider a translation. The first is that of relativism. Relativism is a philosophical perspective that considers our cognitive exercise of understanding as filtered by a culturally defined conceptual way of thinking. Therefore, common biological or genetic factors, like race, are insignificant in the formation of knowledge schemes and concepts in comparison with those factors that provide the surroundings where the individual developed. In short, one can say that a human being is born without these knowledge schemes and that it is culture that creates them and molds his development.
We can also think of translation from a second, contrary perspective, that of universal rationalism. Universal rationalism proposes a biological and psychological determinism. This theory advocates nativism, which homogenizes all human practices and concepts, while diversity is relatively superficial and of secondary importance. Within linguistics, one of universal rationalism's exponents is Chomsky, who in the 1950s proposed a theory defending the innate character of the faculty of language. According to Chomsky, the more than 4,000 existing languages present a surprisingly similar syntax, in spite of their phonologic and graphic differences. This fact allows languages to be translated from one into another.
Choosing one of these perspectives would imply having a completely different perception of a translator's job. From the universal rationalism perspective, the translator must trace the reality exposed in one text over to another, limiting himself to merely one transfer. The reader of the translation (also known as the target text or TT) shares common biological and psychological characteristics with the reader of the original text (also known as the source text or ST). Therefore, from the universal rationalism perspective, the translator should not find it difficult to interpret the TT, even if the TT contains references to a culturally distinct setting. In effect, the differences in context will be limited by the biological and psychological makeup of the reader of the ST and the reader of the TT. In this case, the translation exercise would be reduced fundamentally to a linguistic one.
A translation exercise from the perspective of relativism differs from the same exercise from the perspective of universal rationalism on two points. First, although one accepts that the potential readers of these two products share common biological and psychological characteristics, the determinism that these characteristics exert at a cognitive level is to be questioned. Therefore, the emphasis is on what the readers have in common, rather than on the differences, the distinct interpretation strategies that arise as consequences of the different cultural context. In this sense, the translator makes a greater commitment with the reader of the TT; this would imply saying the same thing with different codes (Jakobson, 1959), maintaining the stylistic impact of the original. The translation would not simply be a question of linguistics. One should start translating not only words, but also concepts and even contexts.

2. The problem of equivalence

Translations using the relativism perspective have raised a heated controversy in the last twenty years. The question raised by those who do not support this type of translation is "Do we continue to have the same text?" This question, taken to the extreme, would lead us to the metaphysic and metatheoretical questions of the translation, because it could require a redefinition of the entire translation exercise. The problem with which we are presented is that of equivalence in translation. The TT and the ST must be equivalent in words, in message and, as far as possible, in grammatical structures.
The ideal would be an intermediate point where the translator commits himself to a high fidelity at the linguistic level as long as it doesn't interfere with the comprehension of the TT. This would agree with Bernárdez's (1995) theory of self-regulation of communication. According to this theory, the sender of the message, the translator in this case, will adjust the information according to the necessities of the receiver and other contextual factors in a process of self-regulation that have a tendency towards a state of entropy or a state of equilibrium. Equilibrium here would be understood as the ideal result where the message has maximum comprehension with minimum alteration of the linguistic elements and structures.

3. The different linguistic schools and their influence on translation

We shouldn't remain unaware to the fact that the prevalence of different linguistic schools, from different time periods, have had a role in the different views of translation. Therefore, within structuralism one tends to see language like a collection of relations, of interconnected subsystems. According to this school of thought, each element is defined according to the role that it plays in this set of relations. Due to the importance that this linguistic paradigm has exerted from the 1930s until well into the century, it is no wonder that translation was more centered on linguistic structure and how structural relations of the ST could be preserved in the TT. One of the defenders of structural integrity was Cartford (1965), who distinguished between rank-bound translation and unbounded translation. Rank-bound translation is a method of translation that maintains equivalencies at the word, or even morpheme, level. According to Cartford, rank-bound translation is the only feasible method to use between languages that have similar structures at the morphologic and syntactic level. As far as unbounded translation is concerned, the equivalence would be found at more complex levels like sentences.
However, in the 70s, with the advent of new streams of thought, like cognitive linguistics, paradigms like structuralism remained relegated to a peripheral position, except in classical studies, Latin and Greek. New factors were introduced in the study of linguistics. Among them were the different cognitive activities like perception, vision, and conceptualization; in addition, aspects like kinesthesia and the interaction of body and space gained interest. Also, the appearance of neuroscience in the 70s and its first achievements contributed to the flourishing of this new linguistic school. The cognitive linguist attributes great weight to the formation of conceptual schemes specific to the cultural surroundings of the speakers of the language. This specificity is what produces different conceptual categories in diverse knowledge systems such as language.

4. Equality and difference between cultures: an anthropological perspective

In speaking of specificity, we're touching on the anthropological question of to what degree does a common ground exist between different cultures or between speakers of different languages. Evidently, we cannot assume that any system is translatable into another. Two completely different systems that have nothing in common cannot be totally explained one in terms of the other. From the point of view of anthropological studies, the members of a specific world could not understand another world if it is diametrically different from theirs. Hilary Putnam (1981) referred to this when she spoke of the Principle of Charity. According to the Principle of Charity, human beings share a great number of concepts, the difference between them being perception. Therefore, the notion of concept would have a generic character and the way they are perceived would correspond to the distinct specific perceptions that occur in each culture, or in each individual, of a given concept.
Of course, the different perceptions that you can have of a given concept, do not simply appear among the individuals separated by a culture. We can also speak of concepts where different perceptions exist in different times. This would lead us to speak of a type of translation that is not inter-linguistic or intercultural, but rather inter-temporal. For example, the perception of love is not the same for an urban European from the XXI century as it is of a person from a medieval court from any European city. Nevertheless, in present times we can explain the ideas, beliefs, rituals, etc., that sustained the love forms of a denizen in a European medieval court, which implies a type of translation at a semiotic level and would relate to questions such as intertextuality. In any case, if we can still interpret certain practices or behaviours as love-related despite the centuries that passed between the two models of our example, it is because even though there are different conceptions of love, we still have one unique concept. Evidently, this example would lead us to have to redefine the concept of culture, and to consider whether the same culture in two different stages of its evolution constitute two different cultures. Therefore if someone of our time, in Europe, explained what the love means to a person from a medieval European court, he would be executing a type of translation. In the same manner, the anthropologist does not only use an external position from which to contribute a scientific knowledge that permits the translator to reconsider the adopted procedures to do his work. The anthropologist is also the translator. An anthropologist studies the cultural, communication and linguistic practices of a people so he can later describe them to individuals absolutely foreign to those people. To achieve that purpose, he must describe the different practices and under what context these practices occur, in a way that can be understandable by the future receptor. This description will become the basis for conceptual schemes of his own from which he interprets these practices. This leads us again to insist on the similarities that occur between geographically and culturally remote peoples. If not, we would not be able to understand the social organization, rituals, or general practices of cultures different from ours and, according to Foley (1997,171), "anthropology as a discipline could not exist".
These similarities also present themselves in manifestations of high creativity and freedom, like in artistic manifestations. Therefore in movies or in literature, when one tries to narrate events that occurred in fantasy or unreal worlds, including other planets, the characters are given human-like characteristics or behaviors. It seems man cannot invent anything that he cannot conceive. This is applicable to translation from a ST to a TT because, according to the perspective that we are referring to, the possibility of translation is a display of the similarity that exists between two worlds. It is the job of the translator to find these similarities and use them accordingly in favor of his readers.

5. Conclusion

Translation is one of the oldest human practices both in its written and oral forms. Without a doubt, translation is essential for making communication between people of different cultures possible. As far as if it should be centered on formal aspects of the text or on its content, the debate should take into account the purely functional character of translation. Not all translations occur in the same context nor do they have the same objective. This fact demands such versatility from the translation professional that it frequently requires specialization of the translator. For their part, the different social sciences can, from a theoretical point of view, study factors that participate in the translation exercise. These contributions from different fields permit the translator to reflect on the task of translation from different unexplored perspectives.

Kamis, 01 Desember 2011

DEMOCRACY


The Advantages of Democracy
  • Democracy can provide for changes in government without violence. In a democracy, power can be transferred from one party to another by means of elections.
  • Any government is bound by an election term after which it has to compete against other parties to regain authority. This system prevents monopoly of the ruling authority. The ruling party has to make sure it works for its people for it cannot remain being the authority after completing its term unless re-elected by the people.
•Everyone gets input into the process, without special qualifications.
•We feel like we have right.
•By definition, the majority of people who participate will like the results.
•Everyone is treated equally before the law, irrespective of caste, creed or sex.
•Everyone is entitled to freedom of speech, worship, occupation and to move through out the country.
•The dignity of man is recognized and respected, people are given ample opportunities to become strong and self reliant.