FEMINIS RADIKAL DALAM NOVEL
“JATUHNYA SANG IMAM” KARYA NAWAL EL-SADAWI
(Sebuah Tinjuan Sastra Feminis)
PENDAHULUAN
Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang menyajikan cerita fiksi dalam bentuk tulisan atau kata-kata, yang mempunyai unsur intrinsik dan ekstrensik. Sebuah novel biasanya menceritakan tentang kehidupan manusia bermacam-macam masalah dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesamanya. Seorang pengarang berusaha semaksimal mungkin mengarahkan pembaca kepada gambaran-gambaran realita kehidupan lewat cerita yang ada dalam novel tersebut. Seperti halnya cerita dalam novel Jatuhnya Sang Imam Karya Nawal el-Sadawi ini ceritanya sangat menarik.
Nawal el-Saadawi membuat cerita dalam novel Jatuhnya Sang Imam terlihat hidup. Peristiwa- peristiwa itu dalam kenyataan memang benar terjadi. Nawal el- Saadawi adalah seorang pengarang yang peka terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh individu dan masyarakat. Novel Jatuhnya Sang Imam yang terbit pada tahun 2004 merupakan novel dari Nawal el-Saadawi yang mempunyai kelebihan dalam menceritakan kehidupan tokoh-tokoh perempuan. Novel tersebut menceritakan gambaran kenyataan yang ada dalam kehidupan masyarakat. Perspektif jender dan ketidakadilan jender menjadi masalah menarik yang diungkapkan pengarang melalui tokoh-tokoh dan menjadi peristiwa yang diceritakan.
Nawal menulis novel Jatuhnya Sang Imam di dalam bui ketika ia dengan beberapa pemikir yang anti-Sadat dipenjara. Novel ini menceritakan seorang imam (pemimpin) di suatu daerah yang mengklaim sebagai wakil Allah di bumi. Dia menindas dan memperdaya rakyatnya atas nama Tuhan. Ternyata imam yang dipuja-puja rakyatnya itu memiliki anak di luar nikah. Dan borok imam tercium ketika sang anak dikejar-kejar polisi karena dituduh sebagai pembunuh. Sang imam mati sangat tragis karena ditembak anaknya sendiri saat perayaan kemerdekaan negaranya.
Tokoh imam itu terilhami oleh sosok Sadat. Sedangkan sifat kemunafikan imam yang sering menampakkan diri di depan rakyat sebagai pemimpin yang taat beragama tapi di belakang rakyat suka mabuk adalah sosok Numairi (mantan Presiden Sudan). Nawal pernah mengatakan dalam suatu wawancara:
“Saya pernah ke istana Numairi. Di sana ada kamar khusus salat dan kamar khusus minuman keras. Padahal, Numairi memerintahkan rakyatnya untuk membuang setiap minuman keras ke Sungai Nil. Munafik, bukan? Dan, pemimpin-pemimpin sekarang banyak yang seperti itu.”
Nawal sering terkesan menyerang Islam dan sistem politik negaranya, Mesir. Namun, dalam pembicaraannya di berbagai forum internasional dan sebagai pembicara kunci di hampir seluruh universitas di Amerika serta institusi akademik lainnya, ia tidak kehilangan daya kritisnya terhadap AS terutama prasangka buruknya terhadap dunia Islam.
Tentang feminisme, ia mengatakan bahwa di Mesir sedikit sekali, untuk tidak mengatakan tidak ada feminis. Menurutnya, feminisme adalah perjuangan melawan patriarkat dan kelas. Sekaligus perlawanan terhadap dominasi laki-laki dan dominasi kelas. Dan menurutnya opresi yang dilakukan keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Karena hal itu saling berkaitan.
Ia juga mengkritik kaum feminis, yang menurutnya sebagian besar memiliki ‘kesadaran palsu’ terhadap perjuangan yang mereka lakukan. Menurutnya, kalangan feminis sering tidak menyadari bahwa mereka menjadi korban fundamentalisme keagamaan dan konsumerisme Amerika. Ketidaksadaran mereka tentang hubungan antara kebebasan perempuan di satu sisi dan ekonomi serta negara di sisi lain, sering membuat perempuan hanya terfokus pada perjuangan melawan patriarkat semata dan mengabaikan bahaya corporate capitalism bagi kehidupan perempuan Perumusan Masalah dan Landasan Teori
Masalah perspektif jender yang terkandung dalam novel Jatuhnya Sang Imam, salah satunya ditunjukkan melalui tokoh Bintullah sebagai sosok perempuan yang telah didorong oleh rasa putus asa ke pojok yang paling kelam. Masalah ketidakadilan antara lain diungkapkan dalam bentuk tindak kekerasan terhadap perempuan yang dimainkan oleh Bintullah. Peneliti menganggap novel Jatuhnya Sang Imam mengenai perspektif jender penting untuk dianalisis dengan alasan sebagai berikut:
Pembahasan masalah perspektif jender yang terkandung dalam novel Jatuhnya Sang Imam penting dilakukan untuk mengetahui relevansinya dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat. Masalah perspektif jender dalam karya sastra pada umumnya dan khususnya dalam novel Jatuhnya Sang Imam pada khususnya merupakan fenomena menarik dalam memberikan deskripsi dan kontribusi dalam wacana feminisme, jender dan sasrta. Oleh karena itu penulis menganalisis novel Jatuhnya Sang Imam dengan teori sastra feminis. Kritik sastra feminis ini dapat diartikan sebagai alat untuk menyatukan pendirian bahwa seorang perempuan dapat membaca sebagai perempuan, mengarang sebagai perempuan, dan menafsirkan karya sastra sebagai perempuan. Kritik sastra feminis bertujuan untuk menunjukkan citra wanita dalam karya penulis-penulis pria yang menampilkan wanita sebagai makhluk dengan berbagai cara ditekan, disalah tafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarkal yang dominan.
Agar pembahasan dalam penelitian ini menjadi jelas dan terarah perlu adanya perumusan masalah. Perumusan masalah dalam penelitian ini dalahsebagai berikut:
1. Bagaimana struktur yang membangun novel Jatuhnya Sang Imam karya Nawal el-Saadawi?
2. Bagaimana wujud perspektif jender dan maknanya yang terkandung dalam novel Jatuhnya Sang Imam karya Nawal el Saadawi?
PEMBAHASAN
Pembahasan Gender Yang Membangun Struktur Dalam Novel
Dalam konteks sastra, feminisme berkembang menjadi tiga golongan. Golongan pertama disebut golongan yang paling lunak karena hanya sekedar memperjuangkan agar status wanita, termasuk sastrawan wanita dan karya sastra wanita menjadi lebih baik. Golongan kedua berusaha untuk merombak kanon sastra karena mereka menganggap bahwa standard kanon tidak lain adalah standard hasil kerangka pemikiran laki-laki. Golongan ketiga disebut golongan pemarah. Mereka menganggap laki-laki sebagai musuh dan mereka mengekspresikan kemarahan mereka kepada laki-laki, pengarang laki-laki, dan tokoh-tokoh laki-laki dalam sastra ke dalam karya sastra [Darma, 1999: 3]. Nawal el-Sadawi dapat dimasukkan dalam golongan ke tiga karena dia menggunakan karya-karyanya untuk mengekspresikan kemarahannya kepada laki-laki, baik individu maupun tradisi yang berorientasi pada kepentingan laki-laki.
Tulisan atau kritikan pedas Nawal el-Sadawi, tokoh feminis Mesir ini, bukanlah tanpa tujuan atau maksud. Pena digunakannya sebagai senjata untuk menunjukkan ketidakadilan yang dialami wanita sehingga ada tindakan untuk mengubahnya. Tokoh-tokoh dalam novelnya Jatuhnya Sang Imam digunakannya sebagai corong ide untuk menyuarakan hati nurani wanita. Dengan kata lain, untuk menggugat ketimpangan dalam bidang sosial, cinta, rumah tangga, kesenian, bahkan juga pendidikan.
Jatuhnya Sang Imam adalah salah satu karya Nawal el-Sadawi yang sarat dengan ketidakadilan tehadap wanita dan kemarahan terhadap laki-laki. Yang menarik, meskipun setting keseluruhan berada di dua negara, yaitu di Mesir dan Palestina, tokoh-tokohnya, kecuali tokoh utama wanita dan putrinya, adalah orang arab, persoalan dan konflik yang yang terjadi kerap juga terjadi di Mesir sehingga banyak pelajaran dapat dipetik dan banyak inspirasi dapat diperoleh oleh pembaca Mesir termasuk juga pembaca Indonesia.
Dalam karya apiknya ini Nawal el-Sadawi memperluas wawasan pembacanya dengan menceritakan perjuangan beberapa wanita dalam menghadapi konflik dan membungkusnya dengan kata-kata cantik sehingga tidak terkesan menggurui. Diantaranya, perjuangan tokoh utama wanita, Bintullah, dalam kesendiriannya menghadapi godaan laki-laki iseng yang telah beristri dan perjuangannya menghadapi konflik batin berkaitan dengan ketidakjelasan asal usulnya, sebagai anak haram. Selain itu, pembaca dihantar juga untuk memahami penderitaan wanita yang bernama kate ketika harus melayani nafsu suaminya dan para penghuni istana.
Novel ini menceritakan seorang imam (pemimpin) di suatu daerah yang mengklaim sebagai wakil Allah di bumi. Dia menindas dan memperdaya rakyatnya atas nama Tuhan. Ternyata imam yang dipuja-puja rakyatnya itu memiliki anak di luar nikah. Dan borok imam tercium ketika sang anak dikejar-kejar polisi karena dituduh sebagai pembunuh. Sang imam mati sangat tragis karena ditembak anaknya sendiri saat perayaan kemerdekaan negaranya.
Sang Imam yang mempunyai legitimasi penuh dalam permasalahan agama, selalu memakai Tuhan sebagai landasan dan pijakannya dalam menentukan masalah dan kepentingan, termasuk juga kepentingan pribadinya. Ia banyak menafsirkan agama sekehendaknya sendiri. Menurut dia seorang Imam adalah utusan Tuhan sama dengan seorang nabi yang diutus oleh Tuhan. Apa yang menjadi keputusannya adalah keputusan Tuhan dan segala hal yang dilarangnya adalah larangan Tuhan juga.
Dalam novel Jatuhnya Sang Imam, sebenarnya sang imam mempunyai kehidupan yang buruk termasuk beberapa kalangan istana namun masyarakat tidak mengetahuianya. Dalam pandangan masyarakat sang Imam adalah panutan yang harus selalu ditaati segala bentuk perintahnya tanpa ada prasangka untuk memprotes maupun meneliti kembali. Karena menurut nereka sang Imam adalah manifestasi dari Tuhan yang menampakkan diri ke dunia demi hambanya. Menurut pandangan masyarakat segala ilmu Tuhan telah diberikan kepada sang Imam untuk menyelamatkan umatnya dari siksa neraka. Hanya sang Imam yang mengetahui segala peristiwa yang bakal terjadi di muka bumi ini karena hanya dia yang iberi ilham oleh Tuhan.
Dalam kehidupannya perilaku sang Imam tidak sesuai dengan petuah yang ia sampaikan kepada masyarakatnya. Ia menyuruh umatnya untuk membuang arak dan segala jenis minuman keras ke sungai namun di istana ia tiap malam berpesta minuman dan mabuk-mabukkan bersama para pejabat istana. Hamper tiap malam sang Imam selalu bergaul dengan wanita yang berlainan. Bahkan istrinya sendiri pun tidak hanya bergaul dengan sang imam seorang namun hamper semua pejabat istana pernah menggauli permaisuri sang imam. Bahkan sebelum menjadi sang imam ia pernah memerkosa seorang gadis secara beramai-ramai bersama teman-temannya hingga sang gadis tersebut hamil.
Bagi sang imam wanita adalah pelayan bagi kaum laki-laki. Segala apa yang diinginkan lelaki harus dipatuhi dan dilaksanakan. Kesalahan wanita adalah kesalahan setan sedangkan kesalahan laki-laki berasal dari Tuhan. Wanita hanyalah pemuas bagi nafsu lelaki jika sudah bosan sah untuk dibuang atau diberikan kepada orang lain. Wanita tidak boleh selingkuh ataupun berkhianat kepada lelaki karena itu dilaknat oleh Tuhan akan tetapi laki-laki boleh berkhianat ataupun selingkuh karena laki-laki bvoleh punya wanita lebih dari satu.
Kebusukan dan keburukan sang imam mulai terlihat ketika ada seorang gadis yang sudah tidak punya ayah dan ibu mencoba mencari tahu keberadaan ayahnya. Menurut cerita ibunya dan orang yang pernah mengasuhnya ketika ia masih dipanti asuhan bahwa sifat-sifat yang dimiliki ayahnya sama seperti sifat-sifat yang ada pada sang imam. Gadis tersebut bernama Bintullah.
Karena merasa tidak mempunyai ayah, maka Bintullah menganggap dirinya sebagai putri Tuhan sebagaimana Isa al-Masih putra Tuhan dari Ibu Maryam. Sejak kecil Bintullah adalah sosok wanita yang kritis terhadap realitas kehidupan yang ia alami. Ia memprotes mengapa laki-laki boleh beristri lebih dari satu sedangkan wanita tidak boleh. Ia juga tidak setuju sikap seorang istri ketika suaminya selingkuh sang istri hanya diam saja menerima apa adanya. Menurut Bintullah seorang wanita terhormat jika ia bisa mengoptimalkan otaknya dan pikirannya dalam artian bahwa sebagai wanita mereka harus berani mengkritisi segala kebijakan dan permasalahan yang dirumuskan oleh kaum patriarki namun berdapak buruk terhadap wanita keputusan tersebut, meskipun keutusan tersebut berlandaskan teks keagamaan.
Sikapnya yang kritis terhadap realitas kehidupan yang ada serta keinginannya untuk mengetahui siapa ayahnya sebenarnya menghantarkannya bertemu dengan sang Imam. Dari sikapnya ini sang imam tahu bahwa Bintullah adalah putrinya. Namun bintullah tidak mau mengakui danmenerima sang imam sebagai ayahnya, karena ia tidak mau memiliki seorang ayah yang kejam yang bertindak sewenang-wenang terhadap wanita menganggap wanita sebagai budak dan barang yang bisa diperjualbelikan. Namun akhirnya Bintullah membunuh sang imam karena merasa kesal dengan sikapnya yang semena-mena memutarbalikkan ajara agama. Dan Bintullah akhirnya dikenai hukuman mati karena telah membunuh sang imam
Perspektif Gender Terkandung Dalam Novel Jatuhnya Sang Imam
Melalui tokoh Bintullah ini, Nawal el-Sadawi mentransferkan dan mencurahkan segala kekesalannya terhadap ketidak setaraan gender akibat dominasi sisitem patriarki. Bahkan dominasi system patriarki ini dilegitimasi berdasarkan agama. Dalam sistem patriarki, suami mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada istri karena suami dianggap sebagai kepala rumah tangga. Suami mempunyai hak untuk memerintah anggota keluarganya. Selain itu, suami yang berkuasa juga atas semua harta milik, menjadi pencari nafkah dan sebagai pembuat semua keputusan penting. Di lain pihak, istri dituntut untuk dapat menyenangkan suami, tanpa mempedulikan kesenangan dan hak-hak pribadinya
Dalam novel Jatuhnya Sang Imam, Bintullah adalah merupakan anak kandung dari sang Imam sendiri. Dari semenjak kecil Bitullah diasuh oleh panti asuhan, ibunya mati karena dihukum ranjam dengan tuduhan melakukan perzinahan. Hukuman itu diputuskan oleh sang imam sendiri padahal sang imam lah yang telah menjadikannya hamil.
Dalam novel tersebut dikatakan bahwa harga seekor kerbau lebih mahal dari pada harga seorang perempuan. Seorang laki-laki bisa memiliki empat orang perempuan namun hanya punya seekor kerbau. Seorang wanita berjalan di parit mencari makan sementara seekor kerbau bersenang-senang. Nuansa patriarki juga tampak dalam pernyataan sang Imam bahwa patuh kepada Tuhan adalah sebuah kewajiban dan patuh kepada ayah atau suami sama dengan patuh kepada Tuhan.
Bahkan pengkhianatan seorang laki-laki itu diperbolehkan berdasarkan perintah Tuhan, tetapi kalau pengkhianatan seorang perempuan itu dilarang oleh Tuhan karena pengkianatan perempuan berasal dari setan dan pada dasarnya perempauan adalah penipu seperti ibu mereka Hawa. Bahkan masyarakat akan memberi penilaian negatif kepada istri yang tidak melayani suaminya. Bahkan, bila suami berlaku kasar kepadanya, istri tetap wajib menghormati suaminya. Sikap demikian wajib ditunjukkan karena suami memang dianggap lebih tua daripada istrinya. Dengan demikian, istri yang tidak menghormati dan mematuhi suaminya akan mendapat kesan yang jelek dari kalangan masyarakat. Selain alasan tersebut di atas, alasan lainnya adalah untuk menghindari perceraian.
KESIMPULAN
Jika disimak dengan benar, dapat disimpulkan bahwa apa yang hendak diangkat Nawal el-Sadawi pengarang wanita Mesir ini dalam novel Jatuhnya Sang Imam adalah wanita dan pria seharusnya dapat menjadi mitra yang baik. Penghalang yang menghadang adalah adanya tradisi patriarki yang mendudukkan pria di posisi lebih tinggi dari wanita sehingga wanita bukan menjadi mitra melainkan obyek dari pria. Pesan yang ingin disampaikan dikemas pengarang feminis Mesir ini dengan apiknya lewat kemarahan dam kekritisan tokoh utama wanita yang merupakan anak haram dari Sang Imam sendiri. Penggunaan pemain utama yang sama-sama berlatar belakang masyarakat yang mengagungkan patriarki sengaja dilakukan untuk menajamkan pesan. Sekali lagi, apa yang diperjuangkan bukannya agar wanita dianggap lebih hebat dari laki-laki tetapi agar wanita diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki atau diperlakukan yang sama dengan laki-laki karena sebetulnya wanita mempunyai potensi yang sama dengan laki-laki.
Kemarahan yang ditonjolkan bukan diarahkan kepada orang laki-laki tetapi kepada perbuatan laki-laki yang menindas wanita. Nawal el-Sadawi ingin meyadarkan wanita bahwa kemarahan akibat ditindas bukan merupakan sesuatu yang negatif, sesuatu yang harus dihindari tetapi hendaknya menyadarkan wanita untuk bangkit dan menolong diri sendiri agar bebas dari penindasan.
Juga dapat disimpulkan bahwa Nawal el-Sadawi ingin menyadarkan pembaca atau masyarakat bahwa agama tidak bisa dijadikan legitimasi seoarang pria akan kedudukanya dihadapan wanita karena hal ini hanyalah menimbulkan penderitaan bagi wanita. Sudah waktunya bagi para pemimpin dan pemuka agama untuk berbesar hati mau meninjau kembali dan meneliti secara seksama posisi yang sebenarnya antara pria dan wanita dalam pandangan agama. Nawal el-Sadawi juga menekankan bahwa menjadikan istri sebagai obyek tidak menguntungkan suami tetapi malah merugikan karena istri tidak dapat mengoptimalkan potensi yang ada pada dirinya semaksimal mungkin. Intinya, pengarang Meisr ini ingin membuka mata pembaca atau masyarakat bahwa lebih menguntungkan dan membahagiakan jika wanita dan pria menjadi patner daripada menjadi pesaing
Tidak ada komentar:
Posting Komentar